Informasi, Tips And Trik.

Cerita Horor - Pengalaman Seram Saat Pendakian Gunung Slamet

Cerita Horor - Tanpa banyak berbasa-basi yang mungkin sudah terasa basi, cerita kali ini adalah pengalaman ketika mendaki Gunung Slamet (3428mdpl) untuk mengibarkan merah putih di atas puncaknya. Mungkin pengalaman kali ini tidak seseram di gunung-gunung sebelumnya. By the way,  Silakan disimak



Rencana pendakian menuju salah satu pilar langit pulau jawa ini sudah kami, lebih tepatnya aku sih, rancang dari sekitar 6 bulanan lalu atau awal tahun 2013 ini. Sayangnya. sebagian besar Komplek Sasbal sudah lulus kuliah, aku belum. Aku berinisiatif untuk membentuk tim baru dalam pendakian kali ini, dengan beranggotakan 3 orang anggota dari Komplek Sasbal yaitu aku, Ibon, dan Aji. Sisanya adalaha Max, Yosep, Roy dan Pian. Berarti, total 6 orang pendaki dan 1 leader, aku.

Suatu cerita akan lebih hidup bila kita mengenal para pelakunya dengan lebih dekat, memang hal tersebut bisa dilakukan sembari cerita berjalan tetapi aku lebih suka dengan memperkenalkan mereka terlebih dahulu sebagai pondasi dan tentu saja perkenalan. Aku akan memperkenalkan 6 orang pendaki yang telah disebutkan, aku? Sepertinya tidak perlu karena aku sudah cukup banyak bercerita sebelumnya, jadi silakan teman-teman reunion simpulkan sendiri. Pertama adalah Aji, dia sama sepertiku yang seorang pendekar silat dan merupakan anggota original dari Komplek Sasbal, seorang bisnisman di bidang import.

Kedua adalah Ibon, satu-satunya perempuan pada pendakian kali ini, pertama bergabung pada pendakian gunung ciremai, alumni dan panitia Kapal Pemuda Nusantara Disbudpar. Roy, orang batak yang sudah belasan tahun tidak pulang kampong, botak biadab. Pian, orang bogor yang kalau ngaret bisa sampai 2 hari, percayalah. Max dan Yosep, rekan parkour di kampus, masih newbie dalam pendakian gunung.

14 Agustus 2013, pukul 17.30 sore, Kami bertolak dari bandung menuju Purwokerto. Tiba di tujuan sekitar pukul 02.30 pagi. Sesampainya di terminal kota Purwokerto aku sempat dibuat kagum oleh kerapian dan kebersihannya, sangat beda dengan terminal Leuwi Panjang di Bandung. Atas saran seorang baik yang kami temui di jalan, kami akhirnya mengetahui bahwa di lantai 2 kantor terminal ini disediakan semacam rest area bagi pemudik yang bisa kami gunakan untuk beristirahat. Kamipun menuju kesana.

Aku iseng-iseng berjalan menuju lantai 3 untuk melihat-lihat. Ooh ternyata ada mushola kecil dan toilet. Melangkahlah diriku menuju toilet. Namun beberapa langkah sebelum aku sempat memasukinya aku tercekat. Masya Allah, perasaan ini familiar sekali. Radarku berbunyi. Sepertinya ada yang ingin disapa, aku berceloteh. Memang setelah aku berkata itu muncul sesosok seperti kuntilanak yang sedang duduk diatas wastafel dengan kepala miring ke arah kanannya, atau kea rah kiriku. Karakteristiknya sih seperti kuntilanak yang beberapa waktu lalu sering ku temui. Dress putih, bibir senyum menyunggih, dan rambut panjang.

Oke, aku putuskan mengabaikannya dan segera turun lagi ke lantai 2 untuk berbenah. Setelah sedikit Berbenah aku turun ke lantai 1 untuk ikut men-charge batre hp ke bapak-bapak petugas ORARI yg sedang berjaga posko mudik, bapak itu belakangan diketahui namanya Mas Nono. Setelah ngobrol ngalor ngidul, aku kembali ke lantai 2. Tidak berapa lama Mas Nono memanggilku lagi. Waduh, ada apa ini, pikirku dalam hati. Dengan sedikit tergesa-gesa dan khawatir aku turun ke bawah dan di meja Mas Nono sudah ada bapak sebaya dengan Mas Nono.

Aku sempat berpikir macam-macam, bahwa beliau adalah seorang polisi iseng, atau penjahat, atau apapun itu. Semua hal negative yang terpikirkan keluar dalam kepalaku. Aku segera bersalaman dengan sedikit ragu dan memperkenalkan diri. Ketika aku mengetahui siapa beliau, aku merasa lega. Ternyata beliau adalah seorang senior dari Komunitas PA di sana, MAYAPADA. Nama beliau adalah Pak Arief.

Beliau katanya baru saja beres berjaga di posko mudik juga, dan awalnya mengira kami bukanlah pendaki gunung yang akan ke Slamet. Kalo saja beliau tau kalau kami adalah pendaki mungkin sudah diantarkan menuju ke Bambangan, basecamp pendakian, ujarnya. Tapi beliau sangat ingin menolong kami dan menawarkan bantuan untuk mencari tumpangan mobil sayur ke pasar wage.

Awalnya aku tidak menyetujuinya karena tentu saja kami baru saja bertemu saat itu. Aku meminta izin berdiskusi dulu dengan timku, dan dipersilakan olehnya. Setelah perdebatan yang tidak alot dan sangat singkat akhirnya diputuskan kami menerima tawaran beliau. Berangkatlah aku dan beliau ke pasar wage.

Sesampainya di pasar ternyata kami sudah kesiangan, padahal waktu itu baru setengah 4 tapi hampir semua mobil sayur sudah tidak ada. Pak Arief ternyata sangat baik, beliau tidak mau menyerah sampai akhirnya kami mendapat tumpangan. Sambil menunggu beliau ngobrol dengan empunya mobil, aku sempat melihat-lihat bangunan kuno yang ada di depanku, sebuah rumah jaman Belanda yg cukup mewah telah disulap menjadi sebuah kafe. Aku yakin kalo di dalam rumah ini masih ada penghuni aslinya, pikirku dalam hati.

Iseng-iseng aku pusatkan pikiran untuk sedikit memanggil mereka, voila ternyata ada. Seorang nenek gemuk bule sedang duduk di sofa empuk di teras depan kafe tersebut. wajahnya cukup ramah, apabila dilihat dari raut mukanya aku perkirakan sama dengan manusia yang berumur 60-70 tahun. Si nenek memiliki rambut keriting pendek dengan warna pirang emas, hampir sama dengan warna emas bangsa arya di jerman.

Konsentrasiku buyar tatkala Pak Arief dan Mas Sardi si supir menyetujui membawaku dengan tarif 150 ribu, aku menyanggupinya. Tak berapa lama Pak Arief pun beranjak pulang, aku berterima kasih.

Baru saja bebrapa menit senang karena kami mendapat kendaraan ke sana, ternyata keberangkatan harus tertunda. Mobilnya harus mengantar sayuran yg tersisa ke pasar lain, okelah aku bantu, kataku. Setelah hampir satu jam barulah aku dan Mas Sardi bisa menjemput timku di terminal. Saat ini jam menunjukan sekitar pukul 6.30 pagi.

Singkat cerita, pukul 9.30 pagi kami tiba di Bambangan. Beristirahat, buang air, makan, dan lainnya. Pukul 12.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Slamet.

Perjalanan kali ini tidaklah mudah, jarak yang sangat jauh dari pos ke pos cukup menguras tenaga kami kala itu. Beban berat dan terjalnya medan merupakan faktor utama. Setelah berjalan kurang lebih 5 jam kami hanya baru sampai di Pos 2, pondok Walang. Pos ini relatif luas dan mampu menampung sekitar 5 tenda besar ukuran 6 orang.

Terdapat 4 pohon tua yang sangat besar di pos ini yang berdiri bak kaki arca dwarapala yang berjaga-jaga. Wah sepertinya gawat pikirku. Karena biasanya pohon-pohon tua seperti ini penunggunya bukan  mahluk sembarangan. Yah, aku hanya bisa berdoa. Sedikit melamun aku bergumam Wuihhhh..seharian berjalan Cuma dapat 2 pos, pikirku kecewa.

Memang tidak bisa menyalahkan siapapun, karena jarak dari basecamp ke pos 1 adalah 2 jam, dari pos 1 ke pos 2 juga 2 jam, itu jika ditempuh hampir tanpa istirahat. Mungkin hari ini kami masih lelah oleh perjalanan jauh Bandung-Purwokerto-Bambangan, hiburku dalam hati. Aku tidak bisa berdiam melamun terlalu lama karena kami masih banyak pekerjaan sebelum gelap mengungkungi kami.

Aku membagi tim menjadi 2, Aku, Roy, Ibon, Aji membangun tenda, Max, Yosep, dan Pian memasak.

Selang 1 atau 1 setengah jam kemudian tenda telah berdiri tegak, haripun sudah gelap. Makananpun telah siap santap, makanan sederhana sekali. Oh Iya, aku hampir lupa menceritakan rekan seperjalan yang sebenarnya tanpa sengaja berjalan bersama dalam pendakian ini, mereka juga ternyata memutuskan kemping di pos 2 ini. Kami tidak sendiri pikirku. Kami menyebut mereka trio ranger, karena mereka ada yg memakai warna merah, hijau, dan kuning.

Kenyang, pakaian tebal dan hangat, tenda rapi adalah kombinasi yang pas untuk setiap pendaki gunung ketika beristirahat, itu kami miliki semua, sayangnya ada 1 poin penting lagi yang tidak bisa kami nikmati yaitu kesunyian. Kenapa? Karena tidak berapa lama kami memutuskan beristirahat banyak pendaki yang juga mendirikan tenda di pos 2. Inilah saat-saat toleransi antar pendaki dibutuhkan, dan juga kesabaran. Terpaksa aku pasang lagu nih, Ibon yg tidur di sebelahku meminta lagu 'BILUR' dari Sarasvati.

Aku sanggupi, karena meskipun bagian sinden itu cukup menakutkan tapi sangat indah. Saat meresapi lagu ini, aku dikejutkan oleh sedikit guncangan di pohon tua besar sebelah tenda kami. Apa lagi ini, pikirku. Masa monyet sih,tapi mungkin saja. Aku intip sedikit ke arah sumber suara dan....

...telah bertengger diantara 2 pohon besar sesosok mahluk mirip kelelawar raksasa berwarna putih dengan kepala lelaki tua dengan rambut penuh uban, dengan 6 mata, tanpa hidung, dan mulut penuh dengan gigi yang berantakan posisinya. Aku menyaksikan sebuah kengerian..di dalam hutan. Sosok mahluk itu sangat besar, ia bercokol diatas badan pohon dengan ketinggian sekitar 2-3 meter di atas tanah. Aku perkirakan mahluk tersebut berukuran sekitar 4 m tingginya.

Anehnya, entah kenapa aku justru merasa sangat tenang ketika dihadapkan kepada mahluk ini. Sungguh aneh aku merasa sangat terlindungi, bukannya terancam. Sempat tercekat selama beberapa saat, kuputuskan tidur. Akupun tertidur selama beberapa menit sampai terdengar bunyi air menembus kanopi hutan yang tebal sehingga dapat menyentuh tenda kami. HUJAN. Sial, kami lupa membangun parit. Banjirlah akhirnya. Aduh, PR lagi ini pikirku. Untung hujannya tidak terlalu lama sehingga air yg masuk masih bisa kami tangani.

Setelah bisa berbaring lagi aku sempat membayangkan bagaimana jadinya misalkan kami ngecamp di pos terangker gunung slamet, pos 4, Samaranthu. YA! Konon katanya pos ini adalah tempat uji nyali karena biasanya pasti diganggu kalau membangun tenda di sana. Bentuk gangguannya biasanya sih jumlah orang yang tidur di tenda bertambah satu.

Contoh kasus pernah ada 4 orang pendaki membangun tenda di sana. 1 orang keluar untuk membuat api unggun dan buang air. Ketika hajatnya sudah selesai dan hendak masuk tenda ia dikagetkan oleh sleepingbag miliknya yang sekarang sudah terisi oleh sosok lain. Karena takut akhirnya ia memutuskan diam di depan api unggun sampai pagi. Itu hanya salah satunya lho. Ternyata tanpa sadar akupun tertidur.

Esoknya, kami segera sarapan, membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan. Perjalanan kami masih sangat jauh, masih ada 7 pos yg harus kami lalui untuk mencapai batas vegetasi atau trek terakhir menuju puncak. Ketika briefing aku sempat mengemukakan pendapat bahwa hari ini kalo bisa kita harus sampai puncak, tapi semuanya menolak dengan alasan aku mungkin kuat berjalan sampai puncak dalam 2 hari, tapi yang lain apalagi yang masih pemula belum tentu. Akhirnya kami putuskan hari ini kami berjalan semampunya saja, toh 17 agustus masih besoknya dan pasti keburu.

Perjalanan kami cukup mulus, kami melewati pos 3, 4, 5, dan 6 tanpa kesulitan berarti. Hanya saja sempat terjadi ketegangan di dalam tim ketika menuju pos 7, aku sempat membentak Roy, Max, Yosep dan Aji yang berjalan terus tanpa menunggu kami di pos 6. Mereka tidak mengetahui bahaya awan hitam atau kabut gas racun yg sangat mungkin turun di sampe serendah pos 7.

Aku dengan emosi berlari menanjak menuju ke pos 7 tanpa membawa carrierku. Sesampainya di pos 7 emosiku meledak sampai pendaki lain menenangkan. Beruntung teman-temanku cukup mengerti. Dengan sedikit perdebatan akhirnya aku setujui, oke deh, kalo harus mati hari ini mudah-mudahan kita salah satu orang yang beruntung, ujarku.

Dan aku suruh mereka membangun tenda sedangkan aku turun menuju pos 6 untuk mengabari Pian dan Ibon. Hari hampir gelap sesampainya di pos 6. Aku meminta waktu untuk beristirahat karena lumayan melelahkan berlari menanjak dan turun selama 1 jam lebih.

Sekitar setengah jam istirahat, kami memutuskan menyusul ke pos 7, hari mulai gelap, dan aku yakin perjalanan akan sangat lama karena aku harus memanggul carrier 70literku yang sangat penuh ini, dan tentu saja godaan jin penghuni hutan. Aku memang sudah merasa diikuti ketika masih di pos-pos bawah oleh sesosok mahluk.

Wujudnya memang tidak seram tapi cukup membuat bulu roma bergidig ngeri. Bentuknya seperti seorang biasa, rambut panjang lurus rapi sebahu, pakaian hita semua, mata dan bibirnya hitam legam. Mahluk ini memang tidak menunjukkan diri secara terang-terangan tetapi akan muncul ketika kita melewati sebuah tikungan. Saat kita menengok kebelakang mahluk itu akan terlihat seperti mengintip dari balik tikungan.

Teman-teman reunion bisa merasakankah bagaimana rasanya diikuti seperti itu? Agak ngeri kan?

Beberapa lama kemudian kami sudah sampai di pos 7, saat itu magrib sepertinya.

Di atas kami kembali berdekatan dengan Trio Ranger. Di atas ini kami berkenalan, si ranger merah adalah Wabie, ranger kuning adalah Budi, dan terakhir ranger hijau adalah Ikhlas. Ternyata si Ranger merah adalah koki yang handal ketika di gunung, kami sempat bertukar makanan dengan mereka dan memang enak. Belum pernah kami sebelumnya memakan sayur sop di atas gunung. Benar-benar luar biasa.

Singkat cerita, pukul 3 pagi kami telah bangun dan siap untuk Summit Attack. Kami mengincar sunrise. Bukan hanya kami, tapi mereka-mereka juga telah bersiap mendaki ke puncak. Menurut yang aku baca perjalanan menuju puncak apabila dari batas vegetasi atau pos 9 plawangan dapat ditempuh sekitar 2 jam. Akupun memperkirakan sekitar 3 jam apabila perjalanan dimulai dari pos 7 ini.

Selangkah demi selangkah, menit demi menit, hembusan nafas demi hembusan nafas, akhirnya kamipun sampai menuju puncak Gunung Slamet, atap langit jawa tengah, pilar bumi jawa tengah dengan ketinggian 3428 meter dari permukaan laut. Suasana di puncak mengharu biru dengan ratusan, mungkin seribu pendaki yang hendak melaksanakan upacara kemerdekaan di kediaman para dewa, negeri di atas awan ini.

Share :

Facebook Twitter Google+
1 Komentar untuk "Cerita Horor - Pengalaman Seram Saat Pendakian Gunung Slamet"
Back To Top